Selasa, 07 Januari 2014

Dosen IPB Buat Aplikasi Penerjemah Tangis Bayi



Ilustrasi

Dosen Mata Kuliah Aplikasi Komputer Institut Pertanian Bogor, Medhanita Dewi Renanti M.Kom, menciptakan aplikasi pertama di Indonesia yang mampu menerjemahkan arti tangisan bayi. Salah seorang pewarta warga di Kompasiana, Yundika Alvionita, Kamis (19/12/2013) menulis tentang aplikasi baru yang belum diberi nama itu.

Dalam laporannya, Yundika menulis kemampuan aplikasi tersebut dalam mendeteksi lima jenis tangisan bayi berikut tafsirnya. Masing-masing adalah suara tangisan “neh” yang berarti lapar, “owh” berarti lelah atau mengantuk, “eh” yang bertafsir ingin bersendawa, “eairh” berarti nyeri di perut, dan bunyi “heh” yang artinya bayi merasa tidak nyaman.

Yundika juga menulis, aplikasi itu merupakan otomatisasi dari Dunstan Baby Language (DBL). Berdasarkan situs DunstanBaby.com, DBL ditemukan oleh Priscilla Dunstan yang berasal dari Australia pada Juni 1998.

Priscilla yang juga seorang musisi klasik dengan ingatan fotografis pada suara, menemukan pola tangisan bayi dan menerjemahkannya setelah melakukan riset lebih dari delapan tahun. Menurut Yundika, aplikasi temuan Medhanita itu nantinya bakal dibenamkan dalam perangkat dengan sistem operasi Android.

Adapun Medhanita saat dihubungi Kompas pada hari yang sama mengatakan, aplikasi itu merupakan hasil penelitian studi jenjang S-2 yang dilakukannya. Penelitian itu menghasilkan tesis dengan judul Identifikasi Jenis Tangis Bayi menggunakan Codebook untuk Pengenal Pola dan MFCC (Mel-frequency cepstral coefficients) untuk Ekstraksi Ciri.

Medhanita mengatakan, perangkat lunak itu berbeda dengan aplikasi sejenis seperti Cry Translator yang pada 2009 telah tersedia untuk perangkat iPhone. “Cry Translator menggunakan basis data hasil penelitian Dr. Antonio Portugal (Ramirez), sedangkan aplikasi saya menggunakan DBL,” katanya.

Arti setiap jenis tangisan pada aplikasi lain itu juga berbeda dengan temuan Medhanita. LamanTheHindu.com melaporkan, lima tafsir tangisan bayi pada aplikasi lain yang didasarkan pada hasil penelitian Dr. Antonio Portugal itu ialah tentang rasa lapar, terganggu, lelah, tertekan, dan bosan.
Medhanita menambahkan, harga perangkat yang relatif mahal untuk menjalakan aplikasi sejenis yang telah muncul sebelumnya juga akan membedakan perangkat lunak ciptaannya tersebut. Sistem operasi Android yang kelak akan dipilihnya dan tampilan yang relatif sederhana diharapkan Medhanita bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Aplikasi tersebut diklaim mampu mengartikan tangisan bayi usia 0-3 bulan dengan akurasi hingga 94 persen pada sesi percobaan. “Karena mulai usia 4 bulan, arti tangisan bayi akan berbeda-beda, tergantung pada lingkungan kebudayaan masing-masing,” sebut Medhanita.
Saat ini aplikasi tersebut masih dijalankan pada sistem operasi Microsoft Windows yang terbenam dalam komputer jinjing. “Untuk pengembangan selanjutnya, saya ingin selain bisa dijalankan dalam sistem operasi Android juga dapat berbentuk alat tersendiri,” ujar Medhanita.

Sumber:
http://tekno.kompas.com/read/2013/12/22/1110561/Dosen.IPB.Buat.Aplikasi.Penerjemah.Tangis.Bayi (Penulis: Ingki Rinaldi | Minggu, 22 Desember 2013 | 11.10 WIB, diakses 5 Januari 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar